Tahukah Anda Orang yang Selalu Khawatir Sebenarnya Mengganggu Orang Lain

Share on :
Banyak orang selalu merasa khawatir dari waktu ke waktu. Sifat khawatir yang terus menerus muncul ini sebenarnya sudah mengganggu orang lain. Suatu penelitian yang dilakukan oleh fakultas psikologi Case Western Reserve University menunjukkan bahwa kekhawatiran dapat menjadi begitu membosankan dan obsesif. Hal itu dapat mengganggu kehidupan seseorang dan membahayakan relasi sosial, terutama jika orang tersebut menderita gangguan kecemasan umum atau generalized anxiety disorder (GAD).

"Individu dengan GAD sering menempatkan hubungan sosial dengan keluarga, teman atau bawahan pada daftar teratas hal yang perlu dikhawatirkan. Sayangnya, cara yang mereka gunakan untuk mengatasinya seringkali justru destruktif," ujar ahli psikologi Case Western Reserve University, Amy Przeworski, seperti dikutip dari ScienceDaily, Kamis (28/7/2011).

Przeworski dan rekan-rekannya mengamati bahwa orang yang mendapat terapi GAD menunjukkan kekhawatirannya dalam cara yang berbeda tergantung cara mereka berinteraksi dengan orang lain. Dalam dua penelitian, peneliti menemukan empat gaya interaksi yang berbeda dan menonjol di antara penderita GAD, yaitu: mengganggu, dingin, dan non asertif, dan eksploitatif.

Kedua penelitian tersebut mendukung munculnya empat gaya intepersonal ini dan peran signifikannya dalam kaitannya bagaimana penderita GAD memanifestasikan kekhawatirannya.

"Semua individu dengan gaya-gaya ini memiliki kekhawatiran pada tingkat yang sama dan ekstrem, namun mereka memanifestasikan kekhawatirannya dengan cara yang berbeda", kata Przeworski.

Contohnya, dua orang sama-sama khawatir tentang kesehatan dan keamanan seseorang. Satu orang mungkin menunjukan kekhawatiran lewat perhatian namun mengganggu orang lain. Bayangkan tentang orangtua atau suami atau istri yang memanggil tiap lima menit untuk mendapat kabar terbaru apa yang terjadi.

Yang satunya lagi mungkin menunjukkan keTautankhawatiran dengan mengkritik perilaku orang yang ia percayai ceroboh atau sembrono.

"Kekhawatirannya mungkin sama, namun akibat dari kekhawatiran terhadap hubungan interpersonal sangat berbeda. Ini menegaskan bahwa masalah interpersonal dan kekhawatiran dapat saling berkaitan," ujar Przeworski.

Kebanyakan penanganan GAD berdasarkan terapi Cognitif Behavioral, suatu penanganan yang umumnya berhasil pada sekitar 60 persen orang, persentase yang dianggap berhasil untuk terapi. Namun, satu cara untuk meningkatkan terapi bagi para pengkhawatir ini dapat berupa menggabungkan teknik yang menyasar pada masalah hubungan interperson.